Selasa, 13 Maret 2012

13 Macam Penyakit Guru

Dua minggu terakhir ini, merebak SMS dari satu guru ke guru lainnya tentang adanya “penyakit” di kalangan para pendekar pendidikan. Bunyi SMS ini memang terasa lucu dan sedikit mengada-ada, tapi dari segi substansi tampaknya kita tak bisa menganggap remeh isu penyakit guru ini. Gejala penyakit ini bahkan menjadi bahan diskusi yang cukup serius di lingkungan para guru, sambil di antaranya mereka mencoba mencocokkan jenis penyakit mana yang sudah ada dalam diri mereka masing-masing. Inilah bunyi 13 penyakit guru versi SMS itu, yang jika penyakit itu diklasifikasi menjadi tiga jenis keterampilan (skill), yaitu kemampuan personal (kepribadian), metodologis, dan teknis. Pada aspek kemampuan kepribadian guru, penyakit yang disinyalir ada meliputi THT (tukang hitung transport), hipertensi (hiruk persoalkan tentang sertifikasi), kudis (kurang disiplin), dan asma (asal masuk). Banyak sekali dijumpai guru yang selalu berhitung soal pembagian transport dari dana BOS, kecurangan dalam hal proses sertififikasi, kurang disiplin dan masuk sembarangan hanya sekadar memenuhi absensi. Gejala ini sangat umum terjadi di lingkungan guru dan sekolah kita. Diklasifikasi kedua, yaitu soal aspek metodologis, disinyalir guru bahkan memiliki lebih banyak penyakit. Jenis-jenis penyakitnya, antara lain salesma (sangat lemah sekali membaca), asam urat (asal mengajar, kurang akurat), kusta (kurang strategi), kurap (kurang persiapan), stroke (suka terlambat, rupanya kebiasaan), keram (kurang terampil), serta mual (mutu amat lemah). Aspek metodologis ini memang sangat terkait erat dengan faktor courage dan kesadaran untuk berkembang yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru. Sedangkan diklasifikasi ketiga yang menyangkut aspek keterampilan, penyakit guru disinyalir adalah TBC (tidak bisa computer) dan gaptek (gagap teknologi). Kita memang tak cukup punya bukti statistik, seberapa banyak sebenarnya jumlah guru yang sampai saat ini belum bisa dan mengerti soal komputer dan makna penting teknologi sebagai bagian dari pengembangan bahan ajar di kelas. Merebaknya jenis-jenis penyakit di atas, meskipun disampaikan dengan cara dan tujuan untuk melucu, jelas memberi kita gambaran kondisi dan suasana batin para guru kita saat ini. Jika penyakit-penyakit tersebut memang benar adanya, kesalahan pertama harus kita tempakan kepada otoritas pendidikan kita yang salah dalam merumuskan kebijakan soal pengembangan kapasitas profesional guru. Guru seakan lupa pada rumusan dan definisi tentang pendidikan yang tertera dengan amat gamblang di dalam undang-undang sistem pendidikan nasional kita, yaitu sebagai sebuah “….usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Senin, 05 Maret 2012

UJIAN NASIONAL (UN)

Info Seputar UN 2012 Ujian Nasional (UN atau Unas) tetap akan diadakan pada tahun 2012. Berbagai kontroversi yang terjadi di tahun-tahun penyelenggaraan sebelumnya ternyata tak mampu menggoyahkan Kemendikbud untuk terus melanjutkan program ini. Bagi para siswa yang akan mengikuti UN 2012 beserta orangtuanya pasti ingin mendapat info yang sejelas-jelasnya mengenai UN tahun ini. Untuk mendapatkan jawaban yang pasti dan "resmi" memang terkadang sangat sulit didapat. Jikalau adapun biasanya berupa pendapat suatu pihak yang berupa "persepsi" atas aturan yang dikeluarkan pemerintah. Atau ada pula informasi yang berupa dokumen aturan "mentah" yang sangat sulit dipahami oleh kaum awam. Berikut saya sampaikan sebuah dokumen yang menjawab 2 masalah diatas. Dokumen "Tanya Jawab Seputar UN 2012" ini adalah panduan yang resmi dikeluarkan pemerintah yaitu Kemdikbud dan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) selaku penyelenggara UN, namun dalam format Q&A yang mudah dicerna. Langsung klik disini untuk membacanya (dalam Google Docs). Panduan ini berlaku untuk tingkat SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA dan SMK/MAK. Semoga bermanfaat.

Selasa, 28 Februari 2012

REGU "LASKAR" DAN "AIR" MENGGONDOL PIALA LLBL PRAMUKA

Setahun sudah delegasi tim pramuka putra yang dikomandoi Indri cs setelah berjuang keras dan melewati berbagai rintangan akhirnya berbuah manis. Indri cs berhasil menggondol Thropy Juara 1 Kategori Putra dalam kegiatan Lomba Lintas Alam Tingkat SD/MI Se-Kota dan Kabupaten Sukabumi yang diselenggarakan oleh Yayasan Ulul Albab Sukabumi. Serta trophy menjuarai lomba Lintas Desa yang di adakan di SMPN 2 Kab. Sukabumi alhasil regu yang diberi nama “Laskar” itu menyumbangkan Juara 2 Putra. Kini perjuangan itu akan kembali diuji setelah sepekan lamanya di bina untuk mengikuti lomba serupa. Seakan menjadi nama yang melegenda di lingkungan Pramuka MI Cijambe Gudep 099-100, regu “laskar” pun kembali di munculkan untuk menggondol piala yang telah di sediakan panitia lomba. Kini Irsyad Cs yang akan menjadi pinru, Selamat Berjuang kepada delegasi Tim Putra dan Putri yang akan berjuang keras dan mempersembahkan yang terbaik. Semoga memicu untuk lebih berprestasi lagi dan selamat menghadapi tantangan-tantangan berikutnya. You are the winner.

Kamis, 02 Februari 2012

Berani Mengajar, Kenapa Harus Takut Belajar?

JAKARTA, KOMPAS.com - Mutu dan profesionalitas guru masih menjadi tantangan utama pendidikan nasional. Sertifikasi dan peningkatan kesejahteraan guru belum meningkatkan mutu dan profesionalitas mereka. Demikian diungkapkan Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Satria Dharma di Jakarta, Senin (30/1/2012), terkait Rakernas IGI yang digelar Sabtu (28/1/2012) lalu. Ia mengatakan, ada banyak kendala menyebabkan peningkatan mutu dan profesionalitas ini tidak juga berhasil dicapai. Salah satunya adalah rendahnya motivasi belajar para guru. "Guru tidak memiliki motivasi belajar. Seolah-olah, guru itu bertugas mengajari siswa dan melupakan belajar untuk meningkatkan kompetensi dirinya," tutur Satria. Padahal, sambungnya, kalau berani mengajar, maka guru harus berani belajar. Melemahnya motivasi belajar ini berimplikasi pada apatisme dalam pembelajaran. Hal ini dipicu oleh sistem pembelajaran yang berpusat pada ancaman kelulusan, melalui ujian nasional (UN). "UN melemahkan sistem pembelajaran bermutu. Guru jadi malas berinovasi dan kreatif," katanya. Untuk itu, lanjut Satria, peran IGI saat ini difokuskan pada upaya peningkatan mutu dan profesionalitas guru. Pihaknya akan terus membantu pemerintah meningkatkan kualitas guru dengan berbagai seminar dan pelatihan guna mengejar ketertinggalan itu. "Tanpa guru yang bermutu, sulit mengharapkan pendidikan berkualitas," ujarnya. Dalam kesempatan itu, Satria menegaskan upaya peningkatan profesionalitas guru jangan diganggu oleh kegiatan politik praktis. Di banyak daerah guru menjadi korban pertarungan politik dalam pilkada. Mutasi dan demosi dilakukan bila guru tidak mendukung salah satu kandidat. Ini menciderai profesionalittas guru. Sudah saatnya, kata dia, guru betul-betul mencari cara dan terobosan baru untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan di daerah masing-masing.